ENERGI

Indonesia Akselerasi Transisi Kawasan Industri ke Energi Hijau Lewat Solusi Terintegrasi

Indonesia Akselerasi Transisi Kawasan Industri ke Energi Hijau Lewat Solusi Terintegrasi
Indonesia Akselerasi Transisi Kawasan Industri ke Energi Hijau Lewat Solusi Terintegrasi

JAKARTA - Kawasan industri di Indonesia mulai mengalami perubahan besar dalam pola penggunaan energi dengan beralih ke sumber yang lebih ramah lingkungan seperti energi surya, di tengah upaya global dan domestik dalam mengurangi jejak karbon dan memenuhi standar keberlanjutan. Perubahan ini tidak sekadar trend, tetapi menjadi strategi penting untuk mempertahankan daya saing kawasan industri Indonesia di pasar global yang semakin menuntut praktik produksi rendah emisi dan berkelanjutan.

Implementasi PLTS di Kawasan Industri Skala Besar

Berdasarkan laporan terbaru dari Center for Global Sustainability, sekitar 21 kawasan industri di Indonesia kini mulai menerapkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai bagian dari strategi energi bersih mereka. Penerapan PLTS ini melibatkan pengelolaan energi yang lebih canggih dan terintegrasi, bukan sekadar instalasi panel surya di area terbuka.

CEO SUN Energy Jefferson Kuesar menjelaskan bahwa transformasi ini dilakukan demi menjaga daya saing kawasan industri Indonesia di pasar dunia. Pendekatan yang digunakan lebih komprehensif dengan konsep Energy-as-a-Solution, yang tidak hanya menghadirkan PLTS, tetapi juga paket solusi yang mencakup manajemen energi dan efisiensi operasional.

Solusi energi ini mencakup pengelolaan energi surya, penyimpanan energi (battery storage), dan elektrifikasi kendaraan operasional di kawasan industri, sehingga menciptakan sistem energi yang lebih stabil, efisien, dan rendah emisi. Fokus ini sejalan dengan tujuan nasional dalam mempercepat transisi energi bersih dan mendukung pembangunan kawasan industri hijau.

Pendekatan ENERGY-AS-A-SOLUTION untuk Dekarbonisasi

Pendekatan Energy-as-a-Solution yang dikenalkan oleh SUN Energy dirancang untuk membantu pengelola kawasan industri serta tenant mereka menurunkan emisi sekaligus memenuhi standar Environmental, Social, and Governance (ESG) global. Ini menjadi modal penting di tengah semakin banyaknya perusahaan multinasional yang menentukan syarat emisi rendah sebagai bagian dari kesepakatan bisnis.

Dengan pendekatan ini, kawasan industri tidak lagi sekadar mengadopsi panel surya, tetapi membangun fondasi ekosistem energi hijau yang terintegrasi secara strategis. Hal ini mencakup sistem PLTS Atap untuk sektor komersial dan industri, penataan manajemen penyimpanan energi untuk mengontrol pasokan listrik, serta pembangunan infrastruktur bagi kendaraan operasional berbasis listrik.

Inisiatif semacam ini menjadi daya tarik tersendiri tidak hanya bagi investor lokal tetapi juga asing, karena mereka melihat ruang industri Indonesia semakin siap bersaing secara global dengan footprint emisi yang lebih rendah.

Contoh Penerapan di Lokasi Strategis

Beberapa kawasan industri besar telah menjadi pionir dalam penerapan solusi energi hijau ini. Pembangunan PLTS di tiga kawasan industri raksasa, yakni Karawang International Industrial City (KIIC), Greenland International Industrial Center (GIIC), dan Kawasan Industri Jababeka menunjukkan bagaimana energi terbarukan dapat diintegrasikan ke dalam operasi industri skala besar.

Di Kawasan Industri Jababeka misalnya, SUN Energy mengembangkan PLTS berkapasitas 1,8 MW yang digunakan oleh berbagai tenant dari sektor otomotif, farmasi, hingga industri kemasan. Kapasitas ini memungkinkan kebutuhan listrik industri terpenuhi dari energi bersih, sekaligus menurunkan ketergantungan pada energi fosil tradisional.

Penggunaan energi surya di kawasan industri juga mencerminkan upaya pemerintah dan pelaku industri dalam mendukung target dekarbonisasi nasional. Investasi dalam teknologi energi bersih serta dukungan kebijakan merupakan dua faktor yang saling melengkapi untuk mempercepat penerapan energi hijau di sektor industri.

Peran Elektrifikasi Kendaraan Operasional

Selain fokus pada produksi energi bersih, elektrifikasi kendaraan operasional di kawasan industri menjadi salah satu elemen penting dalam strategi dekarbonisasi. CEO SUN Mobility, Karina, menekankan bahwa pergeseran dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga mengubah cara operasi logistik industri secara keseluruhan.

Dengan hadirnya sistem manajemen energi terintegrasi, kawasan industri mampu menghubungkan sumber energi terbarukan dengan kendaraan operasional listrik, sehingga semua aspek operasi industri dapat berjalan dengan jejak karbon yang lebih rendah.

Langkah ini menjadi bagian dari tren global yang mendorong elektrifikasi di berbagai sektor industri untuk mencapai target Net Zero Emissions di masa depan.

Menghadapi Tantangan dan Peluang

Meski perubahan menuju energi hijau menawarkan banyak keuntungan, masih terdapat tantangan yang harus diatasi. Salah satunya adalah kebutuhan investasi awal yang relatif tinggi serta penyesuaian infrastruktur yang harus dilakukan secara bertahap. Namun, banyak pihak optimistis bahwa dengan dukungan teknologi dan kebijakan yang tepat, kawasan industri hijau dapat memberikan dampak jangka panjang yang positif bagi lingkungan dan ekonomi.

Transformasi ini juga membuka peluang lapangan kerja baru di sektor energi bersih, seperti instalasi dan pemeliharaan sistem PLTS, pengelolaan sistem penyimpanan energi, dan pengembangan kendaraan listrik. Dengan demikian, transisi energi bersih di kawasan industri tak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga meningkatkan daya saing dan inovasi di sektor industri nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index