KEMENAG

Kemenag Salurkan Rp19,3 Miliar Dukung Upaya Pemulihan Pascabencana Aceh yang Terpadu

Kemenag Salurkan Rp19,3 Miliar Dukung Upaya Pemulihan Pascabencana Aceh yang Terpadu
Kemenag Salurkan Rp19,3 Miliar Dukung Upaya Pemulihan Pascabencana Aceh yang Terpadu

JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) telah menyalurkan bantuan sebesar Rp19,3 miliar untuk mendukung pemulihan fasilitas keagamaan dan pendidikan yang terdampak oleh bencana hidrometeorologi di Provinsi Aceh sejak masa tanggap darurat bencana. Penyaluran dana ini dilakukan sebagai bagian dari tindak lanjut penanganan pascabencana, dengan dukungan data dan analisis dari JITUPASNA (Pengkajian Kebutuhan Pascabencana) untuk memastikan alokasi tepat sasaran.

Pendekatan Terpadu dalam Pemulihan Fasilitas

Sebagai langkah awal dari program pascabencana, Kemenag Aceh melalui Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Aceh mengelola sebagian dari dana tersebut secara langsung guna menjawab kebutuhan paling mendesak di lapangan. Dari total Rp19,3 miliar, sekitar Rp4,42 miliar dikelola langsung oleh Kanwil untuk pengadaan logistik dasar, alat kebersihan, operasional relawan, serta perangkat komunikasi termasuk internet satelit Starlink yang sangat dibutuhkan di lokasi-lokasi dengan keterbatasan akses.

Dana yang dikelola secara langsung tersebut diperuntukkan untuk mendukung berbagai kegiatan tanggap darurat dan pemulihan awal. Alokasi ini juga mencakup bantuan bagi mahasiswa terdampak bencana yang masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi maupun madrasah, serta mendukung kegiatan operasional di kantor Kemenag kabupaten/kota yang mengalami kerusakan atau gangguan operasional akibat bencana alam.

Distribusi Bantuan ke Lembaga Pendidikan dan Keagamaan

Sebagian besar dana bantuan, yaitu sekitar Rp14,9 miliar, disalurkan oleh Kemenag RI melalui rekening lembaga-lembaga penerima, termasuk 131 madrasah swasta dan 18 pondok pesantren. Setiap lembaga mendapatkan bantuan sebesar Rp100 juta, sesuai dengan hasil pendataan kebutuhan yang dilakukan tim penanganan bencana.

Distribusi bantuan kepada lembaga pendidikan ini merupakan upaya strategis untuk mempercepat pemulihan kegiatan belajar mengajar dan kehidupan keagamaan di wilayah terdampak. Sebab, banyak fasilitas pendidikan seperti madrasah dan pondok pesantren mengalami kerusakan akibat banjir dan longsor yang terjadi beberapa waktu lalu. Melalui dukungan dana ini, lembaga-lembaga tersebut diharapkan dapat segera memperbaiki sarana-prasarana penting yang rusak dan kembali menyelenggarakan kegiatan pendidikan secara normal.

Bantuan Sosial untuk Mahasiswa dan Perlengkapan Sekolah

Selain bantuan lembaga, Kemenag juga mengalokasikan dana untuk membantu mahasiswa yang terdampak bencana. Sebanyak Rp2,35 miliar disalurkan kepada 11.772 mahasiswa perguruan tinggi keagamaan Islam negeri dan swasta yang berada di wilayah terdampak. Masing-masing mahasiswa menerima bantuan tunai sebesar Rp200 ribu. Langkah ini dilakukan untuk meringankan beban ekonomi mahasiswa yang tetap berusaha menyelesaikan pendidikannya di tengah keterbatasan yang dihadapi.

Selain bantuan tunai bagi mahasiswa, Kanwil Kemenag Aceh juga memfasilitasi penyaluran bantuan dalam bentuk barang kepada 169 madrasah negeri. Bantuan barang meliputi berbagai perlengkapan penting seperti tenda darurat, genset, pompa air, serta peralatan kebersihan. Tidak hanya itu, sejumlah 5.000 mushaf Al-Qur’an juga didistribusikan ke sekolah-sekolah dan pesantren yang terdampak untuk mendukung kegiatan keagamaan di lingkungan pendidikan.

Perlengkapan kelas termasuk meja, kursi, dan perangkat teknologi seperti laptop juga disediakan sesuai dengan kebutuhan masing-masing madrasah. Hal ini menjadi bagian dari upaya Kemenag untuk memastikan bahwa proses pembelajaran dapat berjalan kembali meskipun dalam kondisi pascabencana.

Rinciannya Kerusakan Fasilitas dan Target Pemulihan

Data dari Kemenag mencatat bahwa sebanyak 1.842 fasilitas keagamaan dan pendidikan di Aceh terdampak bencana hidrometeorologi tersebut. Rinciannya meliputi 472 madrasah, 391 pondok pesantren atau dayah, 896 rumah ibadah lintas agama, 79 Kantor Urusan Agama (KUA), serta empat kantor Kemenag kabupaten/kota. Kabupaten Aceh Utara menjadi wilayah dengan jumlah kerusakan tertinggi, diikuti oleh wilayah Aceh Tamiang yang juga mengalami dampak signifikan.

Penanganan kerusakan fasilitas ini tidak hanya fokus pada rehabilitasi fisik bangunan, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan layanan pendidikan dan pelayanan publik yang sangat dibutuhkan masyarakat. Dukungan ini dipandang sebagai bagian penting dari pemulihan sosial dan ekonomi di wilayah terdampak, yang tidak hanya memperbaiki infrastruktur tetapi juga memulihkan aktivitas keseharian masyarakat.

Sisa Dana dan Rencana Tindak Lanjut

Hingga saat ini, tercatat bahwa sejumlah Rp255 juta masih tersimpan di rekening Bank Tanggap Bencana dan akan dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pemulihan lanjutan yang belum terakomodasi. Dana ini direncanakan untuk dialokasikan berdasarkan prioritas kebutuhan yang muncul setelah evaluasi lebih lanjut dari tim penanganan bencana.

Penyaluran Rp19,3 miliar yang dilakukan Kemenag merupakan bagian dari upaya besar yang lebih luas untuk membangun kembali kondisi pascabencana di Aceh. Upaya ini melibatkan berbagai elemen pemerintah dan mitra terkait untuk memastikan bahwa masyarakat dapat pulih secara menyeluruh, baik dari sisi pendidikan, pelayanan keagamaan, maupun kesejahteraan sosial secara umum.

Secara keseluruhan, intervensi Kemenag ini mencerminkan pendekatan responsif dan terkoordinasi terhadap kebutuhan masyarakat pascabencana. Dengan memadukan bantuan langsung dan dukungan fasilitas, pemerintah berharap dapat mempercepat pemulihan serta mendorong kebangkitan kembali kehidupan masyarakat di Provinsi Aceh.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index