SDM

Indef Tegaskan Program MBG Sebagai Pilar Utama Investasi SDM Nasional

Indef Tegaskan Program MBG Sebagai Pilar Utama Investasi SDM Nasional
Indef Tegaskan Program MBG Sebagai Pilar Utama Investasi SDM Nasional

JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mendapat sorotan tajam dari kalangan ekonom dan pengamat pembangunan, yang menilai bahwa dampaknya jauh melampaui sekadar intervensi sosial jangka pendek. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti tegas menyebut MBG sebagai investasi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

Esther menggarisbawahi bahwa tujuan program ini bukan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi sesaat, melainkan menyiapkan generasi yang lebih sehat, terdidik, dan produktif. Penilaian ini didasarkan pada kajian dan simulasi model ekonomi yang memproyeksikan manfaat signifikan MBG dalam jangka panjang. Pernyataan Indef ini muncul di tengah perdebatan publik yang masih kerap menyamakan MBG dengan sekadar subsidi pangan atau bantuan konsumtif belaka.

Peran MBG dalam Pembangunan SDM Jangka Panjang

Esther Sri Astuti menyampaikan bahwa program MBG tidak didesain untuk memacu pertumbuhan ekonomi secara instan. Melainkan, ini merupakan investasi dalam modal manusia yang membawa hasil paling optimal saat generasi penerima mencapai usia produktif. Penekanan ini merujuk pada hasil riset Indef bersama United Nations Department of Economic and Social Affairs, yang menggunakan Model Overlapping Generation Indonesia (OG-IDN) untuk mengukur dampak alokasi anggaran MBG pada indikator makro ekonomi.

Melalui simulasi tersebut, MBG dimaknai sebagai transfer non-tunai kepada anak usia 0–18 tahun, dengan tujuan meningkatkan status gizi, kualitas pendidikan, serta kapabilitas kognitif anak sejak usia dini. Program ini diproyeksikan menjadi landasan yang memperkaya kualitas SDM di masa mendatang, terutama dalam konteks persaingan global yang menuntut produktivitas tinggi dan kemampuan adaptasi.

Tantangan Gizi Nasional yang Masih Ada

Kendati trend angka stunting di Indonesia menunjukkan penurunan selama beberapa tahun terakhir, Esther mengingatkan bahwa laju penurunannya masih melambat dan berada di atas batas aman yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Selain itu, persoalan anemia pada ibu hamil, kekurangan energi kronis (KEK), serta beban gizi ganda pada anak dan remaja masih tersebar di banyak wilayah.

Menurut Esther, tantangan-tantangan ini berdampak langsung pada kualitas pendidikan dan produktivitas jangka panjang. Tanpa adanya intervensi serius seperti MBG, Indonesia berisiko terperangkap dalam jebakan produktivitas rendah yang akan menghambat pertumbuhan generasi masa depan. Fokus pada gizi, ia mengatakan, bukan semata pria ataupun konsumsi harian, tetapi fondasi vital dalam membangun kemampuan belajar, literasi, dan numerasi peserta didik.

Investasi atau Belanja Publik? Perspektif Fiskal dan Prioritas Negara

Dalam kajian yang sama, Indef menegaskan bahwa alokasi anggaran MBG merupakan bentuk investasi dalam SDM, bukan sekadar belanja konsumtif. Alokasi tersebut sebagian besar diarahkan pada sub-fungsi pendidikan dan sebagian kecil pada sub-fungsi kesehatan, menegaskan karakter program ini sebagai investasi modal manusia. Pendanaan MBG dikonstruksi melalui realokasi belanja sehingga tidak menambah total belanja negara atau defisit APBN.

Madzhab pandang ini sejalan dengan argumen lain yang menempatkan MBG sebagai pilar investasi untuk masa depan Indonesia, termasuk dalam konteks Visi Indonesia Emas 2045. Dorongan untuk memastikan bonus demografi Indonesia berubah menjadi bonus kualitas sangat tergantung pada program-program yang mampu memperkuat modal manusia sejak dini.

Manfaat Ekonomi dan Sosial yang Luas

Selain peningkatan fungsi gizi dan pendidikan, MBG diprediksi memberi dampak positif pada aspek sosial yang lebih luas. Dengan memperbaiki status gizi anak sejak dini, peningkatan kehadiran di sekolah, konsentrasi belajar yang lebih baik, dan hasil pendidikan yang lebih tinggi bisa menjadi pendorong produktivitas tenaga kerja di masa depan. Secara teori, ini akan memperkuat perekonomian nasional secara konsisten lewat peningkatan SDM berkualitas.

Kajian Indef juga menunjukkan bahwa optimalisasi pelaksanaan MBG terkait dengan pengelolaan yang tepat akan memperluas efek pengganda bagi masyarakat. Termasuk di antaranya, meningkatkan pendapatan UMKM lokal yang terlibat dalam rantai pasok program, serta memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi di level komunitas.

Perdebatan Publik dan Dukungan Pemangku Kepentingan

Meskipun dibangun sebagai investasi SDM yang strategis, MBG terus menjadi bahan perdebatan. Beberapa pihak berpendapat fokus pada fiscal space dan beban anggaran negara cukup berat di tengah tantangan ekonomi. Namun, banyak pengamat kebijakan publik dan pemerintah daerah yang justru menilai program ini sebagai instrumen penting dalam mendukung pembangunan manusia, terutama di masa ketidakpastian ekonomi global.

Berbagai daerah yang telah memperluas cakupan MBG menunjukkan hasil awal yang positif, baik dalam meningkatkan partisipasi sekolah maupun memperkuat nilai gizi anak. Dukungan lintas sektor, termasuk dari pemerintah pusat, daerah, dan lembaga internasional, dianggap krusial dalam menjamin keberhasilan program ini dalam jangka panjang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index