Nilai Tukar Rupiah Terapresiasi Tipis, Dolar AS Menurun ke Level Rp16.820

Rabu, 18 Februari 2026 | 09:34:40 WIB
Nilai Tukar Rupiah Terapresiasi Tipis, Dolar AS Menurun ke Level Rp16.820

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mencatat apresiasi setelah pasar libur panjang menyambut Tahun Baru Imlek 2026. Penguatan mata uang Garuda ini sekaligus menandai respons pasar terhadap sejumlah sentimen global dan domestik yang mempengaruhi dinamika kurs di awal pekan.

Penguatan Kurs di Awal Perdagangan

Rupiah membuka sesi perdagangan kali ini dengan catatan positif terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah dilaporkan berada di sekitar level Rp16.820 per dolar AS, menguat tipis jika dibandingkan dengan posisi penutupan terakhir sebelum libur panjang. Sejumlah pelaku pasar mengaitkan penguatan ini dengan tingginya minat investor untuk kembali melakukan transaksi setelah libur Imlek, sekaligus respons terhadap data ekonomi global yang sedang menjadi perhatian pasar.

Penguatan rupiah ini juga mengikuti tren beberapa pekan terakhir di mana mata uang Garuda pernah bergerak ke level serupa. Misalnya pada perdagangan akhir sebelumnya, rupiah ditutup menguat 13 poin di level yang sama, yang dipengaruhi oleh sentimen eksternal dan sikap pelaku pasar terhadap kebijakan moneter global.

Sentimen Pasar Global dan Kebijakan Bank Sentral AS

Perubahan arah dolar AS sering kali menjadi faktor utama dalam pergerakan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Pelemahan dolar AS terhadap sebagian besar mata uang dunia memberikan ruang bagi rupiah untuk mengalami apresiasi. Sentimen lemah dolar ini dipengaruhi oleh ketidakpastian seputar kebijakan suku bunga dan data ekonomi AS yang kurang menggembirakan belakangan ini.

Hal serupa juga tercatat dalam rilis data ekonomi AS di beberapa pekan sebelumnya, di mana indeks dolar menunjukkan tekanan di pasar global. Ini memberikan sinyal kepada pelaku pasar bahwa dolar AS sedang mengalami sell-off, sehingga mendorong apresiasi terhadap mata uang lain termasuk rupiah.

Selain itu, ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed masih menjadi fokus utama. Pelaku pasar kini mengamati dengan cermat pernyataan para pejabat bank sentral AS, yang berpotensi memengaruhi aliran modal global dan kurs mata uang. Kecenderungan The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga lebih lanjut dipandang negatif terhadap dolar AS dan berkontribusi pada tekanan di pasar valas.

Peran Kebijakan Domestik dan Bank Indonesia

Di dalam negeri, peran Bank Indonesia (BI) tak bisa diabaikan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Komitmen bank sentral untuk memantau serta berintervensi di pasar valuta asing ketika perlu menjadi salah satu faktor stabilisasi yang dipandang positif oleh investor.

Bank Indonesia diketahui memiliki sejumlah instrumen operasional, termasuk pasar spot dan pasar berjangka non-deliverable forward, yang bisa dimanfaatkan untuk mengelola volatilitas nilai tukar. Strategi ini dinilai penting terutama di tengah gejolak pasar global yang masih tinggi.

Analis pasar uang menyatakan bahwa kepercayaan pelaku pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia dan kebijakan moneter yang konsisten turut memberikan dukungan terhadap rupiah. Hal ini terlihat dari kecenderungan rupiah untuk tetap berada di rentang kuat meskipun dolar AS sempat menguat di sesi tertentu.

Respons Investor setelah Libur Imlek

Kembalinya aktivitas perdagangan pasca-libur Tahun Baru Imlek membawa dampak nyata pada likuiditas pasar. Investor lokal dan asing kembali masuk ke pasar valuta asing, memicu pergerakan harga yang lebih dinamis.

Aliran transaksi yang lebih aktif ini sekaligus memberikan gambaran bahwa pelaku pasar cukup optimistis terhadap prospek nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. Sentimen positif ini muncul bersamaan dengan data ekonomi domestik yang menunjukkan stabilitas fundamental, termasuk cadangan devisa dan indikator inflasi yang terkendali.

Meskipun demikian, penguatan rupiah masih diwarnai oleh ketidakpastian eksternal yang tinggi. Faktor global seperti perubahan kebijakan moneter di AS, data ekonomi terbaru, serta perkembangan ekonomi negara maju lainnya tetap menjadi risiko bagi pergerakan kurs rupiah ke depan.

Prospek Nilai Tukar dan Pergerakan Selanjutnya

Melihat dinamika terbaru, analis memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif dalam beberapa hari ke depan. Sementara sentimen global dapat mendorong apresiasi, kondisi pasar yang masih rentan terhadap pergerakan dolar AS menjadi pengingat bahwa risiko terhadap pelemahan kurs tetap ada.

Pelaku pasar kini cenderung bersikap hati-hati, menunggu data dan keputusan kebijakan ekonomi terbaru baik dari AS maupun dari dalam negeri. Sementara itu, asumsi bahwa Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar menjadi salah satu faktor kunci yang dipertimbangkan investor dalam membuat keputusan posisi mata uang.

Secara umum, meski rupiah berhasil mencatat apresiasi di awal perdagangan, skenario pergerakan kurs rupiah masih dipengaruhi oleh berbagai faktor global dan domestik yang saling berinteraksi. Kinerja mata uang Rupiah dalam sepekan ke depan kemungkinan akan mencerminkan sentimen pasar yang lebih luas, baik dari sisi fundamental ekonomi maupun sentimen risiko global.

Terkini