KEMENAG

Kemenag Tekankan Pembelajaran Ramadan 2026 di Madrasah Lebih Pada Karakter, Bukan Khatam Al Quran

Kemenag Tekankan Pembelajaran Ramadan 2026 di Madrasah Lebih Pada Karakter, Bukan Khatam Al Quran
Kemenag Tekankan Pembelajaran Ramadan 2026 di Madrasah Lebih Pada Karakter, Bukan Khatam Al Quran

JAKARTA - Panduan teknis pembelajaran di madrasah selama Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi dirumuskan ulang oleh Kementerian Agama Republik Indonesia untuk menyesuaikan momen bulan suci dengan tujuan pendidikan yang lebih bermakna bagi peserta didik. Aturan yang tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 1290 Tahun 2026 menegaskan bahwa madrasah tak lagi diwajibkan menargetkan khatam Al Quran secara kuantitatif, tetapi fokus pada kualitas bacaan, pemahaman ayat, serta pembinaan karakter spiritual dan sosial siswa.

Panduan Baru untuk Ramadan di Madrasah

Petunjuk teknis pembelajaran Ramadan ini menjadi acuan nasional bagi seluruh satuan pendidikan madrasah di Indonesia, baik yang dikelola pemerintah maupun masyarakat. Kebijakan itu dirancang untuk mengintegrasikan proses pendidikan formal dengan nilai-nilai ibadah yang relevan dengan suasana bulan puasa. Dalam panduan ini, dimensi spiritual dan sosial peserta didik menjadi prioritas utama, sehingga pembelajaran tidak semata sekadar penyesuaian jadwal akademik biasa.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, menekankan bahwa Ramadan merupakan momentum strategis dalam pembentukan karakter murid. Menurutnya, penyesuaian jadwal pembelajaran selama bulan suci harus diarahkan pada upaya menumbuhkan keimanan, kedisiplinan, akhlak mulia, serta kepedulian sosial peserta didik secara berimbang. “Madrasah memiliki keunggulan dalam mengintegrasikan nilai ibadah dengan proses pendidikan, sehingga pembelajaran di bulan suci dapat berlangsung lebih bermakna dan kontekstual,” ujar Amien.

Tiga Tahap Pembelajaran Ramadan

Kebijakan pembelajaran Ramadhan 2026 dibagi dalam tiga tahapan. Tahap pertama dimulai dengan kegiatan Tarhib Ramadan, yang menitikberatkan pada penguatan relasi keluarga. Pada fase ini, murid didorong untuk membangun kebersamaan di rumah sebagai bagian dari kesiapan mental dan spiritual menyambut Ramadan.

Tahap kedua merupakan inti pembelajaran di madrasah melalui tatap muka intensif. Pada fase inilah materi pembelajaran difokuskan pada tahsin Al-Qur’an, pemahaman makna ayat, praktik ibadah, serta adab. Orang tua juga dilibatkan dalam proses evaluasi sebagai bagian dari penguatan pengalaman spiritual siswa.

Tahap ketiga berlangsung saat libur Idulfitri, dengan penekanan pada implementasi nilai-nilai sosial, seperti silaturahmi dan aktivitas kemasyarakatan di lingkungan sekitar. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat nilai kepedulian sosial siswa di luar lingkungan sekolah dan madrasah.

Evaluasi: Lebih dari Sekadar Administrasi

Kemenag menekankan bahwa evaluasi pembelajaran selama Ramadan tidak hanya berbasis administrasi atau durasi kegiatan. Sebaliknya, penilaian diarahkan pada pertumbuhan sikap dan perilaku peserta didik sebagai refleksi dari pemahaman dan internalisasi nilai-nilai yang diajarkan selama bulan suci.

Instrumen evaluasi yang digunakan antara lain jurnal refleksi harian murid, kartu kendali tahsin untuk perkembangan bacaan Al-Qur’an, serta lembar observasi perkembangan sikap. Ini terutama digunakan bagi murid tingkat RA dan MI kelas awal, yang sedang berada dalam fase awal pembentukan sikap dan karakter.

Pesantren Ramadan dan Kegiatan Pendukung

Selain pembelajaran formal di kelas, madrasah juga didorong untuk menyelenggarakan kegiatan Pesantren Ramadan minimal selama tiga hari. Model pelaksanaannya fleksibel, dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing satuan pendidikan. Hal ini bertujuan memberikan ruang yang lebih luas bagi siswa untuk memperdalam pengalaman spiritual dan rasa kebersamaan.

Menurut Direktur KSKK Madrasah, Nyayu Khodijah, Ramadan merupakan fase penting dalam pendidikan karakter. Aktivitas belajar pada bulan tersebut menjadi ruang pembiasaan sikap, penguatan nilai moral, serta pembentukan empati sosial. Hal ini sejalan dengan tema pembelajaran Ramadan tahun ini yang secara khusus diarahkan pada penguatan iman, akhlak, dan kepedulian sosial.

Panduan baru ini mengubah paradigma lama yang lebih menekankan pada pencapaian target qira’ah atau jumlah bacaan Al Quran secara kuantitatif. Pemerintah berharap dengan pendekatan baru ini, siswa tidak hanya mahir membaca, tetapi juga mampu memahami makna ayat dan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan pendekatan pembelajaran yang komprehensif dan penuh makna, Kemenag berharap momen Ramadhan 2026 dapat dimanfaatkan secara optimal oleh madrasah sebagai wahana penguatan karakter bangsa yang berlandaskan nilai-nilai spiritual dan sosial.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index