BURSA

Bursa Efek Dibuka Kembali Usai Imlek: Peluang dan Rekomendasi Saham Pasar Modal RI 2026

Bursa Efek Dibuka Kembali Usai Imlek: Peluang dan Rekomendasi Saham Pasar Modal RI 2026
Bursa Efek Dibuka Kembali Usai Imlek: Peluang dan Rekomendasi Saham Pasar Modal RI 2026

JAKARTA - Usai libur panjang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali dibuka pada Rabu, 18 Februari 2026, dengan investor dan pelaku pasar mencermati peluang rebound serta saham pilihan yang dianggap memiliki prospek menarik untuk dikoleksi pada sesi awal pekan ini.

Kondisi Awal Pasar dan Sentimen Pasca Libur

Perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi terakhir sebelum libur panjang, yakni Jumat (13/2/2026), ditutup melemah 0,64 persen atau turun 53,08 poin ke level 8.212,20. Meski begitu, sejumlah analis menilai hal itu bukan pertanda negatif secara jangka panjang, melainkan momentum akumulasi saham.

Pandangan ini didukung oleh Senior Market Chartist Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, yang mengatakan bahwa koreksi yang terjadi sepanjang Februari dapat dianggap sebagai kesempatan bagi investor untuk melakukan bottom fishing pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat serta valuasi yang sudah terdiskon.

Menurut Nafan, secara historis dalam rata-rata 25 tahun terakhir, performa IHSG masih berada dalam tren positif dan sentimen-sentimen musiman seperti perayaan Imlek, Ramadan, hingga Lebaran kerap memberikan momentum bagi pasar modal domestik.

Di sisi lain, pasar juga masih menunggu langkah nyata dari BEI dalam hal meningkatkan transparansi pasar modal, memperkuat good corporate governance (GCG), serta upaya memperluas free float emiten secara bertahap. Langkah-langkah tersebut dinilai penting guna menjaga kepercayaan investor, khususnya investor ritel dan asing.

Proyeksi IHSG dan Pergerakan Indeks Hari Ini

Untuk perdagangan Rabu (18 Februari 2026), Nafan memperkirakan IHSG akan bergerak dalam area support 8.189 hingga 8.054 dengan potensi resistance di level 8.303 hingga 8.408. Proyeksi tersebut mencerminkan pandangan bahwa meskipun pembukaan pasar dilakukan setelah jeda panjang, terdapat peluang bagi indeks untuk menguat terbatas.

Sementara itu, VP Equity Retail Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas Indonesia mencatat bahwa IHSG dalam sepekan terakhir mampu menguat sekitar 3,49 persen ke level 8.212 meskipun terjadi arus keluar modal asing (capital outflow) mencapai Rp5,47 triliun. Penguatan tersebut dipicu oleh rebound saham-saham konglomerasi seiring meredanya tekanan jual, aksi buyback oleh emiten, serta spekulasi pelaku pasar terhadap laporan kinerja tahunan emiten tahun buku 2025.

Audi memperkirakan bahwa IHSG akan bergerak cenderung mixed dengan kecenderungan menguat terbatas, sejalan dengan indikator teknikal MACD yang menunjukkan tren penguatan. Di tengah kondisi ini, pasar juga masih menantikan keputusan suku bunga Bank Indonesia yang diperkirakan akan tetap di level 4,75 persen pada rapat bulan Februari mendatang.

Rekomendasi Saham Pilihan Analis

Para analis juga memberikan sejumlah rekomendasi saham yang dipandang menarik untuk dicermati oleh investor. Beberapa saham tersebut di antaranya:

HRUM, yang diperkirakan memiliki area akumulasi pada kisaran Rp1.105–Rp1.175 dengan target harga naik ke Rp1.205 dan level stop loss di Rp1.065.

MDKA, dengan area trading antara Rp3.110–Rp3.270 dan potensi target di Rp3.380, serta stop loss pada Rp3.060.

SILO, direkomendasikan pada rentang Rp2.700–Rp2.750 dengan target naik ke Rp2.840 dan stop loss di Rp2.620.

Selain itu, beberapa saham seperti KEEN, yang disarankan untuk strategi trading buy pada kisaran harga Rp1.050 dengan resistance di Rp1.160, serta WIIM yang dianggap potensial melakukan buy on break di atas Rp2.080 dengan support di Rp1.965 dan resistance di Rp2.300, juga menjadi sorotan analis.

Sentimen Eksternal dan Faktor Risiko

Meski sentimen domestik memberi indikasi positif, pelaku pasar tetap memperhatikan faktor eksternal yang bisa memengaruhi pergerakan saham. Risiko seperti potensi arus keluar modal asing, ketidakpastian kebijakan moneter global, serta respons terhadap keputusan suku bunga The Fed dapat menjadi katalis yang memperlemah laju penguatan IHSG dalam jangka pendek.

Investor juga disarankan untuk memperhatikan dinamika harga komoditas, yang bisa memengaruhi saham-saham di sektor energi dan bahan mentah. Beberapa sektor masih menunjukkan pelemahan harga sahamnya, walaupun komoditas terkait justru mencatat tren positif sejak awal tahun.

Secara keseluruhan, pembukaan pasar pasca libur panjang Imlek menghadirkan kombinasi sentimen positif dan tantangan. Peluang penguatan indeks tetap ada, namun investor perlu berhati-hati dan disiplin dalam menerapkan strategi manajemen risiko guna menghadapi dinamika pasar modal Indonesia yang terus berkembang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index