JAKARTA - Pada perdagangan pasar modal Kamis (19/2/2026), saham-saham emiten di sektor tambang nikel mengalami lonjakan kuat, dengan saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatat kenaikan paling dominan di tengah sentimen positif terhadap komoditas dasar industri tersebut.
Kinerja Saham Nikel di Bursa Efek Indonesia
Pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sesi I menunjukkan bahwa saham MBMA mencatat penguatan signifikan sebesar 8,92 persen, mencapai level Rp855 per unit dengan volume transaksi mencapai 334,6 juta saham senilai sekitar Rp283,7 miliar. Saham MDKA juga ikut melonjak 7,60 persen ke level Rp3.540 per saham, menunjukkan selera investor yang kuat pada segmen logam dasar ini.
Selain kedua saham unggulan tersebut, sejumlah emiten lain di sektor nikel turut memperlihatkan tren positif. Saham PT Timah Tbk (TINS) bergerak menguat 3,04 persen ke Rp4.110 per saham, sedangkan saham PT PAM Mineral Tbk (NICL) naik 3,93 persen ke Rp1.190 per unit. Emiten lain seperti PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dan PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) juga menunjukkan pergerakan harga yang positif.
Faktor Penguatan Harga Komoditas Nikel
Lonjakan saham-saham nikel ini cukup erat kaitannya dengan peningkatan harga kontrak berjangka nikel yang tercatat menguat sebesar 3,6 persen ke USD17.393 per ton pada perdagangan Rabu (18/2). Meningkatnya harga nikel memberi sentimen positif terhadap prospek bisnis perusahaan tambang, terutama terkait permintaan global terhadap bahan baku industri baterai dan logam dasar.
Namun demikian, tidak semua katalis fundamental berasal dari dinamika pasar fisik semata. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru-baru ini memberikan sinyal bahwa penyesuaian kuota produksi nikel akan disesuaikan dengan kebutuhan smelter, sehingga meminimalkan dampak terhadap ekspektasi pemangkasan tajam produksi secara tahunan. Perubahan kebijakan ini dipandang bisa menahan kenaikan harga komoditas apabila pasokan tidak lebih ketat dari yang diantisipasi pasar.
Analisis Riset dan Rekomendasi Sektor
Dalam riset yang dirilis sebelumnya oleh Bahana Sekuritas, sektor tambang logam terus menjadi fokus bagi investor institusi dengan rekomendasi overweight terhadap beberapa saham utama di segmen ini. Rumah riset tersebut menaikkan target harga untuk emiten seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), serta merevisi target logam dasar lainnya seperti MDKA dan NCKL berdasarkan analisis valuasi berbasis sum of the parts (SOTP).
Pendekatan valuasi ini mencerminkan rerating global untuk sektor logam secara keseluruhan, di mana valuasi rata-rata emiten sejenis di pasar global diperdagangkan pada EV/EBITDA yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Bahana menilai emiten dengan integrasi vertikal yang kuat memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan kinerja operasional yang stabil dan memenuhi kuota produksi.
Namun demikian, rumah riset ini juga mengingatkan bahwa keberlanjutan tren positif harga saham di sektor ini sangat bergantung pada eksekusi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang efektif. Faktor ketidakpastian kebijakan serta potensi keterlambatan dalam realisasi proyek juga dinilai sebagai risiko yang perlu diperhatikan oleh investor.
Pergerakan Lain di Sektor Nikel dan Reaksi Investor
Sementara indikator teknikal menunjukkan kenaikan harga nikel di pasar berjangka, sejumlah pelaku pasar juga mengamati dinamika penawaran dan permintaan fisik, termasuk koreksi harga di beberapa sesi perdagangan sebelumnya. Aktivitas permintaan musiman di China menjelang Tahun Baru Imlek sempat memperlambat perdagangan fisik, sehingga menimbulkan tekanan terbatas pada pergerakan harga komoditas tersebut.
Terlepas dari dinamika pasar ini, saham-saham nikel tetap menjadi sorotan investor lantaran industri logam dasar ini mendukung rantai nilai industri baterai kendaraan listrik dan teknologi energi baru terbarukan yang diproyeksikan mengalami pertumbuhan signifikan ke depan.
Prospek Jangka Menengah dan Panjang
Secara jangka menengah dan panjang, para analis berpandangan bahwa sektor nikel tetap memiliki potensi positif, terutama jika kebijakan pasokan dapat lebih terkoordinasi dengan permintaan industri global. Investor juga terus memonitor perkembangan kuota produksi, eksekusi proyek hilirisasi, serta permintaan global terhadap nikel sebagai bahan baku utama baterai.