JAKARTA – Sentimen di pasar modal Indonesia menjelang pengumuman pemenang tender proyek Waste to Energy (WtE) alias pengolahan sampah menjadi energi listrik telah memberikan sorotan besar pada sejumlah emiten yang dipandang memiliki peluang kuat untuk terlibat dalam proyek strategis ini. Informasi awal dari pasar menunjukkan nama-nama seperti PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC), PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), dan PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) menjadi kandidat yang dipantau investor dan analis, karena potensi keterkaitan mereka dalam konsorsium yang mengikuti tender proyek WtE Danantara.
Sentimen Saham dan Pergerakan Pasar
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah saham yang dikaitkan dengan prospek proyek WtE mengalami pergerakan positif di Bursa Efek Indonesia (BEI). Analis mencatat bahwa saham OASA misalnya menunjukkan penguatan signifikan year-to-date, sementara saham lain seperti SOFA juga menunjukkan tren penguatan. Kenaikan ini dipandang oleh pelaku pasar sebagai respons terhadap sentimen positif bahwa perusahaan-perusahaan tersebut berpotensi menjadi bagian dari konsorsium pemenang tender.
Di tengah dinamika tersebut, Bursa Efek Indonesia tetap memantau gejolak harga saham yang tidak biasa di beberapa emiten, meskipun pergerakan tersebut belum tentu secara langsung mencerminkan keterlibatan dalam proyek WtE, dan investor diimbau untuk tetap berhati-hati serta memperhatikan keterbukaan informasi perusahaan.
Latar Belakang Tender Proyek Waste to Energy
Proyek Waste to Energy (WtE) di Indonesia, yang dikelola oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, kini telah memasuki fase tender setelah melalui proses seleksi awal yang ketat. Sebanyak 24 perusahaan global dengan rekam jejak di bidang energi bersih dan pengelolaan limbah berhasil lolos untuk berkompetisi dalam tender ini, yang menandai langkah penting dalam upaya mengatasi persoalan pengelolaan sampah sekaligus memanfaatkan sumber daya tersebut untuk menghasilkan listrik.
Proyek WtE diharapkan tidak hanya membantu mengatasi masalah timbulan sampah yang tinggi di beberapa kota besar, tetapi juga menjadi bagian dari strategi energi nasional untuk mendorong penggunaan energi terbarukan dan ramah lingkungan. Dalam prosesnya, perusahaan peserta wajib membentuk konsorsium dengan mitra lokal, seperti BUMN, BUMD, atau swasta nasional, agar transfer teknologi dan kapasitas lokal dapat berjalan efektif.
Peran Emiten Dalam Proyek dan Konsorsium
Beberapa emiten domestik yang diyakini memiliki prospek keterlibatan dalam proyek ini telah mengambil langkah tertentu untuk memperkuat posisi mereka. Sebagai contoh, anak usaha dari SOFA telah menjalin perjanjian konsorsium dengan perusahaan asing untuk mengikuti tender proyek di wilayah tertentu, sementara OASA juga membentuk kerja sama strategis dalam konsorsium yang berbeda untuk wilayah Bogor Raya dan Denpasar Raya.
Sementara itu, emiten lain seperti PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) juga disebut sebagai salah satu perusahaan yang bisa mendapatkan sentimen positif dari sentimen proyek WtE, meskipun keterkaitan langsungnya dalam tender belum sepenuhnya dipublikasikan.
Strategi dan Tata Kelola Tender
Lead of Waste to Energy Danantara Indonesia, Fadli Rahman, menyatakan bahwa proses tender ini dirancang untuk memastikan tata kelola yang kuat dan transparan, serta memberikan peluang transfer teknologi kepada mitra lokal atau pemerintah daerah. Hal ini mencerminkan upaya untuk membangun ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan sekaligus memperkuat kapasitas industri dalam negeri.
Proyek ini juga dipandang sebagai bagian dari kebijakan publik lintas sektor, di mana tujuan jangka panjangnya tidak hanya sekadar pemanfaatan teknologi, tetapi juga berdampak pada aspek ekonomi, lingkungan, dan energi bersih yang lebih luas di Indonesia.
Proyeksi dan Dampak Ke Depan
Dengan diumumkannya pemenang tender yang diharapkan pada akhir Februari 2026, pasar modal dan sektor industri akan mencermati lebih lanjut bagaimana perusahaan-perusahaan yang terlibat akan memainkan peran mereka dalam implementasi proyek WtE. Keberhasilan konsorsium pemenang dalam mengeksekusi proyek ini tidak hanya berpotensi meningkatkan nilai proyek berinvestasi besar, tetapi juga bisa membuka jalur bagi emiten domestik untuk mendapatkan akses teknologi dan peluang pasar baru di sektor energi terbarukan yang berkembang.
Proyek pengolahan sampah menjadi energi ini diharapkan menjadi salah satu komponen penting dalam pembangunan infrastruktur energi bersih di Indonesia, membantu mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil dan memperkuat kapasitas pengelolaan limbah nasional.