JAKARTA - Di tengah arus perubahan industri nikel global dan kebijakan pengetatan produksi yang mulai diberlakukan, harga logam tersebut justru menunjukkan tren penguatan. Situasi ini menghadirkan peluang baru bagi industri nikel nasional untuk memperkokoh posisinya, terutama saat pasar masih dibayangi fluktuasi permintaan, termasuk dari sektor baterai kendaraan listrik. Pada saat bersamaan, langkah perusahaan dalam menerapkan audit serta standar keberlanjutan yang lebih ketat turut memperkuat kepercayaan terhadap upaya membangun rantai pasok yang bertanggung jawab.
Mencuatnya rencana penyesuaian volume produksi bijih nikel sejak akhir 2025 membuat harga nikel menguat
Catatan Trading Economics, harga nikel global naik dari 14.200 dollar AS (Rp 236,67 juta dengan kurs Rp 16.667 per dollar AS) per ton pada 16 Desember 2025 menjadi 18.400 dollar AS (Rp 307,94 juta pada kurs Rp 16.736) per ton pada 6 Januari 2026. Kendati masih rentan berfluktuasi, harga nikel tetap terjaga di atas 17.000 dollar AS (Rp 285,86 juta dengan kurs Rp 16.815,8) per ton pada Senin (16 Februari 2026).
Di tengah situasi tersebut, PT Vale Indonesia Tbk, anggota holding BUMN pertambangan MIND ID, mencatat produksi penjualan 2,2 juta ton bijih nikel pada awal 2026. Capaian ini diraih meskipun pasar tengah berfluktuasi. Sejalan dengan itu, proyek PT Vale Indonesia Growth Project (IGP) Morowali tetap menjaga ritme produksi sambil terus meningkatkan standar kepatuhan serta tata kelola lingkungan.
Head of Mine Operation Bahodopi Vale Indonesia Wafir mengatakan, pencapaian awal 2026 menjadi bukti kesiapan proyek dalam menjaga stabilitas operasional jangka panjang seiring penguatan sistem operasional, perencanaan tambang terintegrasi, serta koordinasi solid antara tim proyek dan operasional. Manajemen juga fokus memastikan keberlanjutan proyek.
Menurut dia, dukungan pemerintah daerah maupun pusat menjadi faktor penting dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif. Tak hanya dalam perizinan dan regulasi, tetapi juga dalam upaya bersama mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Capaian 2,2 juta ton bijih nikel pada produksi dan penjualan pun menjadi fondasi kuat bagi target kinerja sepanjang 2026.
Ekspansi dan Hilirisasi Harita Nickel
Catatan positif juga diraih PT Trimegah Bangun Persada Tbk atau Harita Nickel, perusahaan pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, setidaknya hingga triwulan III-2025. Pada periode itu, Harita membukukan pendapatan Rp 22,4 triliun. Capaian itu didorong, antara lain, penguatan praktik pertambangan berkelanjutan yang dijalankan perusahaan.
Harita tengah melanjutkan fasilitas rotary kiln electric furnace ketiga dengan kapasitas produksi hingga 185.000 ton kandungan nikel dalam feronikel per tahun. Hingga Oktober 2025, kemajuan fase kedua telah mencapai 91 persen dan fase ketiga mencapai 44 persen. Fasilitas tersebut akan berkontribusi dalam program hilirisasi pemerintah dan penguatan daya saing perusahaan.
Audit Standar Internasional dan Rantai Pasok Transparan
Harita juga menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang menjalani audit penuh Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA). Setelah tahap peninjauan dokumen dan audit lapangan, Harita meninjau draf laporan auditor independen untuk menyiapkan langkah-langkah tindak lanjut yang sesuai dengan proses IRMA. Selain Harita, Vale juga menjadi perusahaan Indonesia yang menjalani audit IRMA.
Melalui salah satu unit bisnisnya, PT Obi Nickel Cobalt (ONC), Harita Nickel menyelesaikan audit Responsible Minerals Assurance Process (RMAP) yang dilakukan oleh Responsible Minerals Initiative (RMI) untuk dua komoditas sekaligus, yaitu nikel dan kobalt. Sebelumnya, unit bisnis lainnya, PT Halmahera Persada Lygend (HPL), juga telah menyelesaikan audit serupa dan tahun ini menjalani audit tahunan kedua.
Pelaksanaan audit merupakan bagian dari upaya membangun rantai pasok mineral yang transparan, etis, dan selaras dengan standar global melalui penerapan sistem uji tuntas atau due diligence yang terstandarisasi. Audit RMAP pada 29 Mei 2025 menjadikan Harita Nickel sebagai pelaku industri nikel dan kobalt di Indonesia yang memenuhi panduan due diligence internasional, seperti OECD, Uni Eropa, dan Dodd-Frank Act di AS.
”Penerapan prinsip responsible mining dan responsible sourcing merupakan bagian penting dari strategi ESG Harita Nickel dalam mendukung industri baterai global yang berkelanjutan dan memperkuat peran Indonesia dalam rantai pasok hilirisasi nikel nasional,” ujar Klaus melalui keterangan tertulis pada Selasa (18 November 2025).
Prospek Baterai Kendaraan Listrik
Penguatan harga nikel serta berkembangnya rantai pasok berkelanjutan turut menjadi sentimen positif bagi pengembangan industri baterai berbasis nikel, yang merupakan bagian dari program hilirisasi pemerintah. Di tengah dominasi baterai lithium iron phosphate dalam lanskap industri baterai kendaraan listrik global, pengembangan baterai berbasis nikel, mangan, dan kobalt tetap didorong sehingga menjaga optimisme terhadap prospek sektor ini ke depan.
Pada Jumat (30 Januari 2026), di Jakarta, ditandatangani kerangka kerja sama PT Aneka Tambang Tbk, PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation, dan konsorsium HYD Investment Limited. Konsorsium HYD beranggotakan Zhejiang Huayou Cobalt Co Ltd, EVE Energy Co Ltd, serta PT Daaz Bara Lestari Tbk. Konsorsium ini dipimpin Huayou, yang juga mengoperasikan serta membangun smelter di Indonesia.
Director of Public Affairs Huayou Indonesia Stevanus di Jakarta, Kamis (5 Februari 2026), mengatakan, pihaknya masih melihat pertumbuhan berbagai jenis baterai kendaraan listrik di dunia, baik LFP, NMC, maupun teknologi lain, termasuk baterai berbasis sodium yang mulai berkembang. Menurut dia, setiap jenis baterai EV ke depan akan memiliki ceruk pasarnya masing-masing.